Tampilkan postingan dengan label Berbasa-basi Sejenak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbasa-basi Sejenak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2008

Cinta Tanpa Pamrih

"Adakah cinta tanpa pamrih?" tanya seseorang.

Sang Guru menjawab:

Pak Anu berdiri cemas ketika para malaikat surga memeriksa catatan hidupnya. Akhirnya, Malaikat Pencatat berkata, "Mana mungkin?! Belum pernah ada yang seperti ini! Selama hidupmu kamu belum pernah melakukan dosa ringan apa pun ... yang lebih kecil dari dosa ringan pun tidak. Segala hal yang kamu lakukan adalah perbuatan kasih dan kebaikan semata. Nah, dalam kategori mana kami dapat memperbolehkan kamu masuk surga? Tidak bisa sebagai malaikat, karena kamu bukan malaikat. Tidak bisa sebagai manusia, karena kamu tidak punya satu kelemahan. Begini saja, kami akan mengirim kamu kembali ke bumi selama sehari, sehingga kamu dapat melakukan sekurang-kurangnya satu dosa. Lalu kembalilah kepada kami sebagai manusia." Pak Anu yang tidak berdosa namun malang itu terdampar di sudut kotanya, sedih dan bingung karena diharuskan menyimpang sekurang-kurangnya satu langkah kecil dari jalan hidup yang benar. Satu jam berlalu. Kemudian dua jam. Lalu tiga jam berlalu. Pak Anu masih termangu tak berdaya, bingung apa yang harus ia lakukan. Maka ketika seorang perempuan bertubuh padat memberikan kerdipan padanya, ia menanggapinya tanpa pikir panjang lagi.Perempuan itu tidak muda dan tidak cantik, tetapi ia adalah paspor ke surga. Maka, Pak Anu tidur dengannya malam itu.Ketika fajar menyingsing, Pak Anu melihat jamnya. Ia harus cepat-cepat. Setengah jam lagi ia akan dibawa ke surga.Ketika ia sedang mengenakan pakaiannya, ia mendadak tertegun karena perempuan tua itu memanggilnya dari tempat tidurnya,
"Oh ... sayangku, Pak Anu, betapa baiknya yang telah engkau lakukan padaku malam ini."



(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, 1997)

Rabu, 27 Agustus 2008

Kaya Namun Malang

"Saya kaya, namun malang. Mengapa?"

"Karena kamu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencari uang,

dan terlalu sedikit untuk bercinta," kata Sang Guru.


(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, 1997)

Emosi Negatif

"Orang tidak ingin membuang rasa iri hati, rasa cemas, rasa marah, dan rasa salah,
karena emosi-emosi negatif itu memberikan kepada mereka sensasi,

perasaan sungguh-sungguh hidup," kata Sang Guru.

Dan beginilah ia memberikan ilustrasi.

Seorang tukang pos mengambil jalan pintas melalui rerumputan dengan naik sepedanya.

Sampai di tengah, seekor sapi jantan melihatnya dan mengejarnya.


Orang yang malang itu hampir saja kena tanduk.

"Nyaris kena, ya?" kata Sang Guru yang menyaksikan peristiwa itu.

"Ya," kata orang tua itu terengah-engah. "selalu begitulah selama ini ."



(Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, 1997)